Melampaui Emisi Karbon: Mengapa Perlindungan Hutan Penting bagi Keberlanjutan

Ketika membahas keberlanjutan, emisi karbon sering kali menjadi fokus utama. Perusahaan semakin aktif mengukur emisi gas rumah kaca, menetapkan target iklim, dan mencari cara untuk mengurangi jejak lingkungan mereka. Namun, upaya mengatasi perubahan iklim tidak cukup hanya dengan mengurangi emisi.
Hutan memainkan peran mendasar dalam menjaga keseimbangan ekosistem alami. Hutan menyerap dan menyimpan karbon, mendukung keanekaragaman hayati, mengatur siklus air, melindungi tanah, serta menopang kehidupan jutaan orang. Ketika hutan mengalami degradasi atau kerusakan, berbagai manfaat lingkungan dan sosial yang saling berkaitan tersebut turut terancam.
Bagi dunia usaha, perlindungan hutan bukan sekadar persoalan lingkungan. Isu ini berkaitan erat dengan ketahanan iklim, praktik pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab, transparansi rantai pasok, dan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang. Memahami hubungan antara hutan dan keberlanjutan merupakan langkah penting untuk membangun pendekatan yang lebih menyeluruh terhadap tanggung jawab lingkungan.
1. Hutan Memiliki Peran Lebih dari Sekadar Menyimpan Karbon
Hutan dikenal luas karena perannya dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Melalui proses fotosintesis, pohon menyerap karbon dan menyimpannya di batang, cabang, akar, serta tanah di sekitarnya. Hal ini menjadikan hutan sebagai salah satu komponen penting dalam mengatur iklim global.
Namun, kontribusi hutan jauh melampaui penyimpanan karbon.
Hutan yang sehat menyediakan habitat bagi satwa liar, menjaga kestabilan tanah, mengatur aliran air, serta mendukung proses alami yang menopang pertanian dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya. Ekosistem hutan juga membantu mengatur suhu lokal dan memengaruhi pola curah hujan.
Ketika hutan ditebang atau mengalami degradasi, fungsi-fungsi tersebut dapat terganggu. Deforestasi dapat melepaskan karbon yang tersimpan, mengurangi kemampuan ekosistem dalam menyerap emisi di masa depan, serta meningkatkan tekanan terhadap keanekaragaman hayati dan sumber daya air. Inilah sebabnya strategi iklim yang hanya berfokus pada pengurangan emisi berisiko mengabaikan berbagai risiko lingkungan lainnya.
Perlindungan hutan perlu menjadi bagian integral dari strategi keberlanjutan yang lebih luas, bersama dengan dekarbonisasi, pelestarian keanekaragaman hayati, dan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab.
2. Hilangnya Keanekaragaman Hayati Merupakan Risiko bagi Bisnis dan Lingkungan
Hutan merupakan salah satu ekosistem terpenting di dunia bagi keanekaragaman hayati. Hutan menyediakan makanan, tempat berlindung, dan lokasi berkembang biak bagi berbagai spesies, termasuk tumbuhan, hewan, jamur, dan mikroorganisme.
Degradasi hutan dan hilangnya habitat dapat mengganggu hubungan antarmakhluk hidup serta mengancam kelangsungan berbagai spesies. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satwa liar, tetapi juga dapat memengaruhi jasa ekosistem yang dibutuhkan oleh masyarakat dan dunia usaha.
Sebagai contoh, kegiatan pertanian dapat bergantung pada penyerbukan, kesuburan tanah, ketersediaan air yang memadai, dan pengendalian hama secara alami. Perubahan pada ekosistem di sekitarnya dapat mengganggu fungsi-fungsi tersebut dan menimbulkan tantangan tambahan bagi petani serta rantai pasok pertanian.
Perusahaan yang bergerak di sektor kehutanan, pertanian, pengolahan pangan, dan perdagangan komoditas dapat memiliki paparan risiko yang lebih besar terhadap kondisi tersebut.
Melindungi hutan dan keanekaragaman hayatinya dapat membantu menjaga fungsi ekosistem, mendukung sistem produksi yang lebih tangguh, serta mengurangi dampak lingkungan yang berkaitan dengan penggunaan lahan.
Bagi perusahaan, hal ini berarti bahwa keanekaragaman hayati tidak seharusnya dipisahkan dari upaya penanganan perubahan iklim maupun pengelolaan rantai pasok. Ketiganya merupakan unsur yang saling berkaitan dalam pendekatan keberlanjutan yang bertanggung jawab.
3. Perlindungan Hutan Memperkuat Ketahanan Rantai Pasok
Deforestasi dapat menimbulkan tantangan signifikan bagi perusahaan yang bergantung pada komoditas pertanian dan hasil hutan. Minyak kelapa sawit, kayu, kertas, kopi, kakao, karet, dan berbagai komoditas lainnya dapat memiliki keterkaitan dengan perubahan penggunaan lahan dan risiko deforestasi, bergantung pada cara dan lokasi produksinya.
Seiring meningkatnya perhatian pembeli, regulator, investor, dan konsumen terhadap praktik lingkungan, perusahaan semakin dituntut untuk menunjukkan asal bahan baku serta bagaimana bahan tersebut diproduksi. Keterbatasan informasi mengenai lokasi sumber bahan baku dapat menyulitkan perusahaan dalam mengidentifikasi risiko lingkungan, memverifikasi informasi pemasok, dan menunjukkan kepatuhan terhadap persyaratan yang berlaku.
Rantai pasok yang lebih transparan dapat membantu perusahaan mengidentifikasi risiko lebih awal dan mengambil keputusan pengadaan yang lebih tepat.
Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan meliputi:
Memetakan pemasok dan lokasi sumber bahan baku.
Meningkatkan ketertelusuran bahan baku (traceability).
Menilai risiko deforestasi dan perubahan penggunaan lahan.
Memperkuat proses uji tuntas terhadap pemasok (supplier due diligence).
Menyimpan dokumentasi dan catatan verifikasi yang dapat diandalkan.
Melibatkan pemasok dan petani kecil untuk meningkatkan praktik lingkungan.
Langkah-langkah tersebut dapat membantu perusahaan meningkatkan visibilitas rantai pasok dan mendukung pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab.
Dengan demikian, perlindungan hutan bukan hanya tentang menjaga kelestarian ekosistem alami. Upaya ini juga berperan dalam memperkuat ketahanan dan kredibilitas rantai pasok yang menjadi tumpuan kegiatan bisnis.
4. Peran Perlindungan Hutan dalam Memperkuat Ketahanan Iklim
Hutan berkontribusi terhadap ketahanan iklim dengan membantu mengatur siklus air, menjaga kestabilan tanah, dan mengurangi risiko lingkungan tertentu. Vegetasi hutan dapat menahan sebagian air hujan, sementara akar pohon membantu mengikat tanah dan mempertahankan strukturnya. Bergantung pada kondisi bentang alam dan lingkungan setempat, ekosistem hutan yang sehat dapat membantu mengurangi erosi tanah, mengatur aliran air, dan melindungi daerah aliran sungai.
Ketika hutan mengalami degradasi, suatu wilayah dapat menjadi lebih rentan terhadap erosi, sedimentasi, dan gangguan ketersediaan air. Tingkat dampaknya bergantung pada berbagai faktor, seperti topografi, karakteristik tanah, intensitas curah hujan, dan praktik pengelolaan lahan.
Perubahan tersebut dapat berdampak pada produksi pertanian, infrastruktur, industri yang bergantung pada air, serta masyarakat di sekitarnya.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap cuaca ekstrem dan gangguan akibat perubahan iklim, perlindungan ekosistem alami dapat menjadi bagian dari strategi adaptasi iklim yang lebih luas.
Namun, perlindungan hutan bukanlah pengganti upaya pengurangan emisi gas rumah kaca. Keduanya diperlukan untuk menghadapi berbagai aspek tantangan perubahan iklim.
Oleh karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan kondisi hutan dalam penilaian risiko lingkungan yang lebih luas, bersama dengan pengurangan emisi, pengelolaan sumber daya air, dan perencanaan adaptasi iklim.
5. Regulasi Deforestasi dan Praktik Bisnis yang Bertanggung Jawab
Perlindungan hutan juga semakin relevan dalam perdagangan internasional dan pengelolaan rantai pasok perusahaan. Salah satu contohnya adalah European Union Deforestation RegulationĀ (EUDR), yaitu regulasi Uni Eropa yang menetapkan persyaratan bagi komoditas tertentu beserta produk turunannya yang tercakup dalam regulasi tersebut dan dipasarkan atau diekspor ke pasar Uni Eropa.
Komoditas yang diatur mencakup sapi, kakao, kopi, kelapa sawit, karet, kedelai, dan kayu, serta produk turunan tertentu yang telah ditetapkan.
Bergantung pada persyaratan yang berlaku, pelaku usaha dan pedagang yang tercakup dalam regulasi tersebut mungkin perlu menunjukkan bahwa produk yang dipasarkan memenuhi kriteria bebas deforestasi, mematuhi peraturan yang relevan di negara tempat produksi, dan didukung oleh informasi uji tuntas yang diwajibkan.
Bagi perusahaan yang terhubung dengan rantai pasok pertanian dan kehutanan Indonesia, memahami cakupan regulasi dan tanggal penerapan yang berlaku merupakan hal penting.
Persiapan untuk memenuhi persyaratan terkait deforestasi dapat mencakup:
Mengidentifikasi produk dan komoditas yang termasuk dalam cakupan regulasi.
Memetakan pemasok dan lokasi produksi yang relevan.
Mengumpulkan dan memverifikasi informasi geolokasi apabila diwajibkan.
Menilai risiko deforestasi dan legalitas.
Menetapkan prosedur uji tuntas yang sesuai.
Menyimpan informasi dan dokumentasi pendukung.
Penting untuk membedakan kepatuhan terhadap regulasi dengan sertifikasi keberlanjutan sukarela. Sertifikasi dapat mendukung proses pengadaan dan penjaminan tertentu, tetapi tidak secara otomatis menggantikan kewajiban hukum yang berlaku berdasarkan EUDR atau regulasi lainnya.
Di luar aspek kepatuhan, peningkatan ketertelusuran dan praktik pengadaan yang bertanggung jawab dapat membantu perusahaan memenuhi ekspektasi pelanggan serta memahami risiko lingkungan di sepanjang rantai pasoknya.
6. Mendorong Praktik Bisnis yang Mendukung Alam (Nature-Positive Business)
Strategi iklim perusahaan secara tradisional sering berfokus pada pengukuran emisi dan pengurangan intensitas karbon. Meskipun langkah tersebut tetap penting, pendekatan keberlanjutan yang lebih menyeluruh juga mempertimbangkan bagaimana aktivitas bisnis memengaruhi alam.
Di sinilah konsep bisnis yang mendukung alam atau nature-positive businessĀ menjadi relevan.
Pendekatan nature-positiveĀ bertujuan menghentikan dan membalikkan tren kehilangan alam, termasuk penurunan keanekaragaman hayati dan kerusakan integritas ekosistem. Dalam praktiknya, perusahaan perlu memahami dampak dan ketergantungan aktivitas bisnisnya terhadap ekosistem alami, kemudian mengambil tindakan yang kredibel untuk menangani risiko yang material.
Bagi perusahaan dengan kegiatan operasional yang bergantung pada lahan atau rantai pasok berbasis komoditas, langkah tersebut dapat mencakup:
Menilai dampak dan ketergantungan terhadap alam
Mengidentifikasi bagaimana aktivitas bisnis berinteraksi dengan hutan, keanekaragaman hayati, tanah, dan sumber daya air.
Mencegah deforestasi dan alih fungsi ekosistem
Menetapkan kebijakan pengadaan yang bertanggung jawab dan pengendalian yang sesuai untuk menghindari pengadaan dari area yang dilarang atau memiliki risiko tinggi.
Meningkatkan transparansi rantai pasok
Menggunakan sistem ketertelusuran dan penilaian pemasok untuk meningkatkan visibilitas terhadap lokasi sumber bahan baku dan praktik produksi.
Mendukung restorasi dan konservasi
Jika sesuai, bekerja sama dengan mitra yang kredibel dan pemangku kepentingan lokal untuk mendukung pemulihan ekosistem serta inisiatif konservasi hutan.
Memantau dan melaporkan kemajuan
Menetapkan indikator yang terukur dan menyimpan bukti kinerja lingkungan yang dapat diandalkan.
Tindakan tersebut perlu didasarkan pada data yang kredibel, perlindungan yang memadai, dan hasil yang terukur, bukan sekadar klaim lingkungan yang bersifat umum. Praktik bisnis yang mendukung alam dapat membantu perusahaan beralih dari inisiatif lingkungan yang terpisah-pisah menuju pendekatan keberlanjutan yang lebih terintegrasi.
7. Langkah yang Dapat Dilakukan Perusahaan untuk Mendukung Perlindungan Hutan
Perusahaan tidak perlu menunggu perubahan regulasi besar untuk mulai menangani risiko deforestasi. Langkah awal dapat dimulai dengan memahami dampak lingkungan dari kegiatan bisnis dan mengetahui asal bahan baku yang digunakan.
Berikut beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan.
Langkah 1: Mengidentifikasi paparan risiko deforestasi
Tinjau produk, bahan baku, wilayah sumber pasokan, dan aktivitas bisnis yang berpotensi berkaitan dengan deforestasi atau alih fungsi ekosistem.
Langkah 2: Menilai pemasok dan lokasi sumber bahan baku
Kumpulkan informasi pemasok yang relevan dan evaluasi risiko lingkungan di sepanjang rantai pasok.
Langkah 3: Memperkuat ketertelusuran dan dokumentasi
Bangun sistem untuk mencatat informasi sumber bahan baku, memverifikasi klaim yang relevan, dan menyimpan bukti pendukung.
Langkah 4: Mengintegrasikan perlindungan hutan ke dalam kebijakan keberlanjutan
Hubungkan komitmen pengadaan yang bertanggung jawab dengan prosedur pengadaan, keterlibatan pemasok, manajemen risiko, dan sasaran lingkungan perusahaan.
Langkah 5: Memantau kinerja dan melakukan perbaikan berkelanjutan
Tinjau data pemasok, evaluasi kemajuan berdasarkan sasaran yang telah ditetapkan, dan perbarui langkah pengelolaan risiko seiring perubahan kondisi.
Pendekatan yang tepat akan bergantung pada sektor industri, struktur rantai pasok, paparan terhadap regulasi, dan prioritas keberlanjutan masing-masing perusahaan.
Dengan mengintegrasikan perlindungan hutan ke dalam pengambilan keputusan bisnis sehari-hari, perusahaan dapat mengambil pendekatan yang lebih proaktif dalam mengelola risiko lingkungan dan mendukung produksi yang bertanggung jawab.
Kesimpulan: Keberlanjutan Harus Melampaui Emisi Karbon
Pengurangan emisi gas rumah kaca tetap menjadi langkah penting dalam mengatasi perubahan iklim. Namun, keberlanjutan jangka panjang juga bergantung pada perlindungan ekosistem alami yang menopang keanekaragaman hayati, ketahanan sumber daya air, kesehatan tanah, dan kehidupan manusia.
Hutan memiliki peran sentral dalam upaya tersebut. Perlindungannya dapat berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim, memperkuat ketahanan ekosistem, dan mendukung rantai pasok yang lebih bertanggung jawab. Bagi perusahaan, tantangannya adalah menerjemahkan prioritas lingkungan ini menjadi tindakan nyata melalui penilaian risiko yang lebih baik, pengadaan yang transparan, ketertelusuran yang efektif, dan komitmen keberlanjutan yang kredibel.
Strategi keberlanjutan yang menyeluruh tidak hanya perlu mempertanyakan seberapa besar emisi karbon yang dihasilkan perusahaan, tetapi juga bagaimana aktivitas bisnisnya memengaruhi sistem alam yang menjadi tumpuan masa depannya.
Di Peterson Solutions Indonesia, pemahaman mengenai hubungan antara tanggung jawab lingkungan, transparansi rantai pasok, dan perkembangan persyaratan keberlanjutan dapat membantu perusahaan mengambil langkah yang tepat menuju operasional bisnis yang lebih bertanggung jawab.



Komentar