Hasil Pencarian
170 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- AIPF 2023 Menyatukan Sektor Swasta dan Publik di Kawasan Indo-Pasifik ASEAN
source: Media Center KTT ke-43 ASEAN/Dhoni Setiawan AIPF 2023 — ASEAN-Indo Pacific Forum (AIPF) 2023 di Hotel bergengsi Senayan pada tanggal 5 dan 6 September menandai tonggak sejarah penting dalam melengkapi agenda KTT ASEAN (KTT ASEAN) 2023. Acara ini, yang diselenggarakan sejalan dengan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang diadopsi oleh negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2019, bertujuan untuk memperkuat kerangka kerja regional yang inklusif, mendorong upaya kolaboratif, memperkuat kemitraan yang saling menguntungkan, dan meraih peluang di kawasan Indo-Pasifik. wilayah Pasifik. AIPF 2023 membahas tiga bidang penting yang menjadi kepentingan bersama: Diskusi Infrastruktur Ramah Lingkungan dan Rantai Pasokan yang Tangguh berpusat pada pengembangan infrastruktur dan rantai pasokan berkelanjutan untuk menghadapi tantangan lingkungan. Forum tersebut menyoroti perlunya pendekatan inovatif untuk menjamin umur panjang dan efektivitas sistem tersebut. Penekanan Transformasi Digital dan Ekonomi Kreatif diberikan pada potensi transformatif teknologi digital dan dampaknya terhadap pengembangan ekonomi kreatif. Sesi ini mengeksplorasi cara memanfaatkan teknologi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan inovasi. Pembiayaan Berkelanjutan dan Inovatif Para peserta AIPF terlibat dalam diskusi mengenai model-model pembiayaan yang berkelanjutan dan inovatif, dengan menyadari pentingnya strategi investasi yang mendukung pertumbuhan jangka panjang sambil menerapkan pendekatan-pendekatan baru yang berpikiran maju. Kolaborasi dan Inklusivitas AIPF berfungsi sebagai platform inklusif, menyatukan para pemimpin sektor publik dan swasta dari negara-negara anggota ASEAN dan organisasi mitra. Forum dinamis ini mendorong dialog konstruktif, mengidentifikasi potensi proyek yang nyata, dan mendorong kolaborasi di seluruh kawasan Indo-Pasifik. Pembicara dan Peserta Terkemuka Para pembicara terkemuka, termasuk para kepala negara dan pemimpin dari berbagai industri, memperkaya forum dengan wawasan dan keahlian mereka. Acara ini menampilkan diskusi panel dan acara bincang-bincang, yang menawarkan platform untuk pertukaran pemikiran. Selain itu, tokoh-tokoh industri utama dan pemimpin perusahaan berperan penting dalam pameran proyek dan memfasilitasi sesi perjodohan bisnis, sehingga mendorong peluang kemitraan dan kolaborasi yang bermakna. Peserta Penting AIPF menyampaikan undangan kepada tokoh-tokoh berpengaruh baik dari sektor publik maupun swasta serta perwakilan dari lembaga keuangan internasional (IFI) dan organisasi global. Di antara peserta terkemuka adalah tokoh-tokoh dari lembaga terkemuka seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), Forum Ekonomi Dunia, Dewan Penasihat Bisnis ASEAN (ASEAN-BAC), Maybank, Airbus, Aspen Medical, Forest Carbon Microsoft, Dewan Bisnis Kanada, Bank Investasi Eropa, Institut Urusan Publik & Lingkungan, BP, Bank Investasi Infrastruktur Asia, Badan Perdagangan dan Pembangunan AS, Loca Laos, Amazon, dan Fairatmos. Kesimpulan Forum ASEAN-Indo Pasifik 2023 merupakan bukti komitmen negara-negara anggota ASEAN dan mitranya terhadap kemajuan dan kolaborasi regional. AIPF 2023 telah menjadi preseden bagi dialog inklusif dan tindakan kooperatif di kawasan Indo-Pasifik dengan mengatasi isu-isu kritis dan menyediakan platform untuk diskusi yang bermakna. Hasil dari forum ini diharapkan dapat berkontribusi secara signifikan dalam memajukan masa depan yang lebih berketahanan, inovatif, dan berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan yang terlibat.
- Maroko Bergulat dengan Kehancuran Pasca Gempa Mematikan
Gempa Maroko: Maroko sedang terguncang akibat gempa bumi dahsyat, yang paling mematikan dalam enam dekade terakhir, yang telah merenggut nyawa lebih dari 2.900 orang dan 5.500 orang terluka. Bencana tersebut terjadi pada Jumat (8/9/23) malam, mengguncang kota bersejarah Marrakesh dan melanda Pegunungan High Atlas, meninggalkan jejak kehancuran. Artikel ini menyoroti tantangan yang dihadapi para penyintas, upaya penyelamatan yang berani, dan dukungan internasional yang mengalir deras. Upaya Penyelamatan dan Kisah yang Menyayat Hati: Di desa Amizmiz, dekat pusat gempa, tim penyelamat tanpa kenal lelah menyaring puing-puing, bahkan menggunakan tangan kosong dengan harapan menemukan korban yang selamat. Sayangnya, bagi beberapa keluarga, upaya ini terlambat. Mohamed Azaw, seorang warga yang menderita, menceritakan momen-momen panik ketika dia bergegas mengevakuasi anak-anaknya, karena tidak mampu memberikan bantuan yang sama kepada tetangganya. Penduduk desa di Asni, 40 km selatan Marrakesh, harus menghadapi malam di luar rumah karena hampir semua rumah mereka rusak. Kelangkaan pangan menambah kesengsaraan mereka, karena atap yang runtuh membuat dapur tidak dapat diakses. Pencarian korban selamat sedang dilakukan, dan para tetangga bersatu untuk menyelamatkan mereka yang terjebak di bawah puing-puing. Desa Tansghart di wilayah Ansi terkena dampak paling parah. Rumah-rumah yang dulunya indah kini terkena dampak gempa bumi, dan menjadi pengingat akan dampak bencana yang menimpa komunitas yang erat ini. Abdellatif Ait Bella, seorang buruh, terbaring terluka dan tidak bisa bergerak, masa depan keluarganya tergantung pada keseimbangan. Solidaritas Internasional: Getaran gempa bumi bergema hingga ke Spanyol bagian selatan, yang merupakan bukti intensitas gempa tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa lebih dari 300.000 orang di Marrakesh dan sekitarnya terkena dampaknya. Menanggapi situasi yang mengerikan ini, Turki, yang masih dalam masa pemulihan dari gempa bumi dahsyat yang terjadi pada awal tahun ini, dan Aljazair, meskipun ada ketegangan diplomatik, telah mengulurkan tangan mereka sebagai solidaritas, menawarkan dukungan dan bantuan kemanusiaan. Pemulihan Maroko: Saat negara ini memperingati tiga hari berkabung nasional, bendera dikibarkan setengah tiang untuk menghormati nyawa yang hilang. Angkatan bersenjata Maroko mengerahkan tim penyelamat untuk menyediakan pasokan penting ke daerah yang terkena dampak. Namun, jalan menuju pemulihan tentu akan panjang dan sulit. Kedalaman gempa yang dangkal dan keberadaan bangunan-bangunan batu bersejarah telah memperburuk kehancuran, mengingatkan kita pada kejadian yang terjadi di Turki beberapa bulan sebelumnya. Kesimpulan: Ketika Maroko bergulat dengan dampak gempa bumi dahsyat ini, negara ini tetap tangguh, memperoleh kekuatan dari rakyatnya dan curahan dukungan internasional. Gambaran kehancuran, kesedihan, dan keteguhan hati merupakan pengingat akan kerapuhan hidup dan pentingnya persatuan di saat krisis. Jalan menuju pemulihan akan penuh dengan tantangan, namun dengan tekad yang teguh, Maroko akan bangkit dari puing-puing dan membangun kembali dengan lebih penting dari sebelumnya.
- Dilema Emisi Militer: Menjaga Lingkungan dalam Bingkai Keamanan Nasional
Para ilmuwan dan kelompok lingkungan sedang meningkatkan tekanan pada PBB untuk memaksa pasukan militer di seluruh dunia untuk mengungkapkan semua emisi mereka dan mengakhiri pengecualian yang telah memungkinkan sebagian polusi iklim mereka tidak tercatat. Militer, yang merupakan salah satu konsumen bahan bakar terbesar di dunia, menyumbang 5,5% dari emisi gas rumah kaca global. Namun, mereka tidak terikat oleh perjanjian iklim internasional untuk melaporkan atau mengurangi emisi karbon mereka, dan data yang diterbitkan oleh beberapa militer dianggap tidak akurat atau tidak lengkap. Ini karena emisi militer di luar negeri, mulai dari pesawat terbang hingga kapal laut hingga latihan militer, dikecualikan dari Protokol Kyoto 1997 tentang pengurangan gas rumah kaca dan dikecualikan lagi dari kesepakatan Paris 2015 dengan alasan bahwa data tentang penggunaan energi oleh pasukan militer dapat mengancam keamanan nasional. Sekarang, kelompok lingkungan dan akademisi sedang mendorong pelaporan emisi militer yang lebih komprehensif dan transparan dengan menggunakan penelitian, kampanye surat, dan konferensi dalam upaya lobi mereka. Beberapa kelompok seperti Tipping Point North South dan The Conflict and Environment Observatory, bersama dengan akademisi dari universitas-universitas Inggris seperti Lancaster, Oxford, dan Queen Mary, meminta agar semua emisi militer dimasukkan dalam perhitungan karbon global yang komprehensif. Namun, saat ini belum ada tanda-tanda respons konkret terhadap upaya lobi ini dalam tahun ini. PBB menyatakan bahwa tidak ada rencana konkret untuk mengubah pedoman pelaporan emisi militer, tetapi isu ini dapat dibahas pada pertemuan masa depan, termasuk di KTT28 di Dubai. Beberapa negara seperti Selandia Baru, Inggris, dan Jerman sedang menjelajahi cara untuk melaporkan emisi militer mereka dengan lebih akurat. Meskipun demikian, ada tanda-tanda bahwa beberapa militer bersiap untuk perubahan dalam persyaratan pelaporan mereka dalam beberapa tahun mendatang, sementara yang lain sedang berupaya mengurangi dampak iklim mereka. NATO, aliansi keamanan Barat dengan 31 negara anggota, telah menciptakan metodologi untuk anggotanya melaporkan emisi militer mereka. Penggunaan drone juga telah membantu mengurangi emisi, karena teknologi ini lebih efisien dalam penggunaan energi dibandingkan pesawat berawak. Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa fokus pada emisi militer dapat mengalihkan perhatian pemerintah dari masalah keamanan regional dan memperlambat diskusi dalam jangka pendek. Beberapa militer berpendapat bahwa mempublikasikan rincian tentang penggunaan minyak mereka akan membuka informasi tentang operasi mereka di luar negeri. Sementara itu, emisi militer global akan tetap sulit dipahami, dan beberapa ahli berpendapat bahwa ini memberikan keuntungan tidak adil kepada militer dalam hal tanggung jawab terhadap perubahan iklim. sumber: https://www.reuters.com/business/environment/worlds-war-greenhouse-gas-emissions-has-military-blind-spot-2023-07-10/
- Meningkatnya Harga Tiket: Dampak Transformasi Menuju Penerbangan Berkelanjutan (Dekarbonisasi)
Industri penerbangan menghadapi tantangan besar dalam upaya dekarbonisasi, dengan rencana untuk membebankan biaya transformasi ini pada penumpang yang berpotensi mengakibatkan kenaikan harga tiket. Setelah bertahan dari pandemi Covid-19, sektor ini menghadapi ancaman baru, yakni perubahan ke arah bahan bakar dan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Penumpang mungkin harus membayar tambahan biaya yang signifikan, karena sekitar $5 triliun investasi diperlukan untuk mencapai tujuan netral karbon pada tahun 2050. Untuk mencapai sasaran ini, industri perlu mengatasi beberapa tantangan serius. Keberadaan bahan bakar berkelanjutan memiliki harga setidaknya dua kali lipat dari bahan bakar jet biasa. Selain itu, teknologi baru seperti pesawat bertenaga listrik atau hidrogen masih memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan secara komersial. Untuk saat ini, bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) diperkirakan akan menjadi solusi utama. Pada umumnya, SAF adalah jenis bahan bakar penerbangan yang dapat diperbaharui dan memenuhi standar keberlanjutan. Bahan bakar ini dapat dihasilkan dari berbagai sumber, termasuk limbah hutan dan pertanian, minyak bekas, dan hidrogen ramah lingkungan. SAF dianggap berkelanjutan jika proses perolehannya serta produksi tidak merugikan sektor lain. Dengan kata lain, keseluruhan rangkaian produksi tidak boleh berdampak negatif pada pertanian, pasokan pangan, air, lahan, atau lingkungan secara keseluruhan. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan bahwa SAF memiliki potensi untuk menyumbang sekitar 65% dari pengurangan emisi yang diperlukan oleh sektor penerbangan untuk mencapai emisi net zero pada tahun 2050. Di tengah permintaan yang terus tumbuh, produksi SAF mencapai sekitar 300 juta liter (240.000 ton) pada tahun 2022, menurut IATA. Berkat peningkatan investasi, kebijakan dukungan, serta kerja sama lintas negara, proyek-proyek produksi SAF semakin meningkat. Keterlibatan bersama ini menjadi kunci untuk mencapai target 10% penggunaan SAF dalam penerbangan pada tahun 2030. Transformasi ke arah dekarbonisasi dalam industri penerbangan memerlukan keterlibatan bersama lintas negara. Pada tahun 2022, 184 negara yang merupakan anggota Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) sepakat mengadopsi Tujuan Aspirasi Global Jangka Panjang (LTAG) untuk mencapai netral karbon di industri penerbangan pada tahun 2050. LTAG ini melibatkan penggunaan teknologi pesawat baru dan inovatif, efisiensi operasional penerbangan, serta peningkatan produksi dan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Pada tahun 2023, Uni Eropa juga meluncurkan perjanjian ReFuelEU Aviation, yang mewajibkan lebih banyak pemasok bahan bakar untuk mencampurkan SAF dengan bahan bakar konvensional di wilayah tersebut. Selain langkah-langkah internasional, peran penting juga diemban oleh pemerintah negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pemerintah perlu merancang dan melaksanakan kebijakan yang mendorong perkembangan, produksi, dan penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Dalam konteks ini, insentif dari sisi penawaran, seperti dukungan finansial atau fiskal, bisa menjadi alat kebijakan yang efektif dalam mendorong pertumbuhan organik pasar SAF. Contohnya, Amerika Serikat mengalokasikan dana sekitar USD 3,3 miliar untuk mendorong produksi SAF melalui skema kredit pajak dan program hibah berdasarkan Undang-Undang Pengurangan Inflasi. Di Asia, beberapa negara juga telah mulai beralih ke industri penerbangan berkelanjutan dengan menggunakan SAF melalui kerja sama antara pemerintah, proyek, dan perjanjian kemitraan. Selain dukungan pemerintah, partisipasi dari kalangan peneliti, bisnis, masyarakat sipil, serta stakeholder terkait lainnya juga menjadi kunci untuk mewujudkan perkembangan signifikan dalam industri penerbangan yang berkelanjutan. Konsekuensinya, harga tiket penerbangan kemungkinan akan meningkat secara permanen. Bahkan, biaya dekarbonisasi telah mulai tercermin dalam harga tiket di Uni Eropa, dan langkah-langkah serupa di negara lain akan mengakibatkan kenaikan harga tiket yang lebih umum. Penumpang perlu memahami bahwa pembayaran ekstra ini bukan hanya dampak sementara, melainkan refleksi dari investasi jangka panjang dalam teknologi dan bahan bakar berkelanjutan. Selain mengatasi biaya, industri penerbangan juga menghadapi tantangan dalam memproduksi cukup bahan bakar berkelanjutan untuk memenuhi permintaan yang meningkat. Jumlah Sustainable Aviation Fuel yang tersedia saat ini jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh maskapai di dunia. Dalam beberapa tahun mendatang, jika teknologi dan pasokan bahan bakar berkelanjutan tidak berkembang cukup cepat, maskapai mungkin terpaksa membatasi penerbangan ke tujuan tertentu atau menghadapi kenaikan biaya operasional yang signifikan. Di tengah tantangan ini, langkah-langkah menuju penerbangan berkarbon rendah adalah suatu kenyataan. Walaupun biaya meningkat, tujuan untuk mengurangi dampak lingkungan dari industri penerbangan tetap menjadi prioritas. Penumpang perlu memahami bahwa kenaikan harga tiket merupakan bagian dari perubahan menuju penerbangan yang lebih berkelanjutan, dan dukungan terhadap transformasi ini dapat membantu menciptakan masa depan yang lebih hijau bagi penerbangan global.
- Hadirnya Pembahasan Pajak Karbon di ASEAN Taxation Forum
Pajak Karbon ASEAN Taxation Forum — Pada tanggal 1-3 Agustus lalu, forum penting yang disebut "Asean Forum on Taxation" digelar dengan tujuan utama untuk meningkatkan kerja sama dan menciptakan lingkungan ekonomi yang lebih baik di kawasan ASEAN. Forum ini menjadi ajang bagi negara-negara anggota untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman seputar isu pajak dan kebijakan ekonomi di kawasan. Dengan kepemimpinan dari Kementerian Keuangan Indonesia, yang diwakili oleh Febrio Kacaribu, forum ini menjadi wadah penting untuk merumuskan langkah-langkah strategis dalam meningkatkan iklim investasi, mengoptimalkan sumber daya domestik, meningkatkan basis pajak, mengedepankan keadilan pajak, dan memperkuat stabilitas ekonomi di kawasan ASEAN. Tema yang diusung oleh Kepemimpinan ASEAN Indonesia adalah menjadikan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan inklusif. Pertemuan ini membahas berbagai isu perpajakan yang relevan, di antaranya adalah penguatan jaringan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) di kawasan ASEAN. Selain itu, fokus juga diberikan pada upaya meningkatkan pertukaran informasi perpajakan sesuai standar internasional dan kemudahan layanan administrasi perpajakan bagi investor melalui penggunaan sistem online. Salah satu tantangan terkini yang dihadapi oleh negara-negara di seluruh dunia adalah dampak dari digitalisasi ekonomi dan penggunaan aset kripto. Di dalam forum ini, negara-negara anggota juga membahas dampak perpajakan yang muncul dari fenomena tersebut. Isu penting lainnya adalah pajak atas karbon, yang kini menjadi perhatian global untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Negara-negara di dalam forum juga mendiskusikan bagaimana menghadapi tantangan ini. Tidak hanya berfokus pada isu-isu umum, dalam forum ini juga terdapat sub-forum khusus yang membahas tentang kebijakan cukai. Sub-Forum on Excise Taxation (SF-ET) menjadi wadah bagi negara-negara anggota untuk berbagi pengalaman dan pelajaran terkait perpajakan khususnya pada produk seperti rokok dan minuman beralkohol. Negara-negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, dan Thailand saling berbagi pengalaman dalam mengimplementasikan pajak untuk minuman berpemanis di negara mereka. Pentingnya adaptasi terhadap perubahan tren ekonomi dan teknologi menjadi sorotan dalam forum ini. Terutama dalam hal produk-produk baru seperti rokok elektrik, Indonesia dan Filipina berbagi pengalaman mereka dalam mengatur dan mengawasi produk ini. Di Indonesia, sedang dalam proses menuju penerapan cukai untuk minuman berpemanis dalam kemasan. Melalui Asean Forum on Taxation, diharapkan kerja sama yang lebih erat di antara negara-negara ASEAN dalam hal perpajakan akan membawa dampak positif bagi stabilitas ekonomi kawasan dan memberikan langkah-langkah yang lebih kokoh untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Carbon Tax Discourse Echoes at ASEAN Taxation Forum Carbon Tax ASEAN Taxation Forum —From August 1-3, the "ASEAN Forum on Taxation" convened, with the primary objective of enhancing cooperation and creating a better economic environment within the ASEAN region. This forum served as a platform for member nations to discuss and exchange experiences regarding tax and monetary policies in the region. Under the leadership of Indonesia's Ministry of Finance, represented by Febrio Kacaribu, this forum provided a significant avenue to formulate strategic steps to improve the investment climate, optimize domestic resources, enhance tax bases, prioritize tax fairness, and reinforce economic stability within ASEAN. The theme Indonesia's ASEAN leadership advocated was centred on making ASEAN a resilient and inclusive financial growth centre. The meeting tackled various relevant taxation issues, including strengthening the Double Taxation Avoidance Agreements (DTAA) network across the ASEAN region. Additionally, there was a focus on boosting tax-related information exchange under international standards and facilitating tax administration services for investors through online systems. One of the current challenges countries face is the impact of digitalization and the use of crypto assets. In this forum, member countries also discussed the taxation implications stemming from these phenomena. Another significant issue discussed was carbon taxation, which has garnered global attention in efforts to mitigate climate change impacts. Member countries discussed strategies to address this challenge. The forum didn't solely concentrate on general matters; it also featured specialized sub-forums delving into excise tax policies. The Sub-Forum on Excise Taxation (SF-ET) provided a platform for member nations to share experiences and lessons related to taxation, particularly concerning products like tobacco and alcoholic beverages. Countries such as Malaysia, Brunei Darussalam, the Philippines, and Thailand exchanged experiences implementing taxes on sweetened beverages in their respective nations. The importance of adapting to economic and technological trends took centre stage in this forum, especially concerning new products like e-cigarettes. Indonesia and the Philippines shared their experiences in regulating and overseeing such products. In Indonesia, efforts are underway towards implementing taxes on packaged sweetened beverages. Through the ASEAN Forum on Taxation, closer cooperation among ASEAN nations in taxation is hoped to positively impact regional economic stability, providing robust measures to support sustainable economic growth.
- Dagang Karbon Indonesia Dimulai September 2023!
Dagang Karbon Indonesia — Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman alam yang melimpah memiliki peran penting dalam upaya global untuk mengatasi perubahan iklim. Perdagangan karbon menjadi salah satu instrumen yang akan digunakan untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan dan mencapai net zero emisi pada tahun 2060. Menko Marves, Luhut B. Panjaitan memastikan bahwa pada bulan September 2023, pemerintah Indonesia akan memulai pelaksanaan mekanisme dagang karbon Indonesia yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Rapat internal yang dipimpin oleh Presiden Jokowi membahas berbagai aspek penting terkait perdagangan karbon yang menjadi langkah strategis dalam melawan krisis iklim. 1. Pengaturan Mekanisme Dagang karbon Indonesia Diawasi OJK Pentingnya keberlanjutan lingkungan dan perlunya mengurangi emisi gas rumah kaca telah mendorong pemerintah Indonesia untuk merumuskan mekanisme perdagangan karbon yang efektif. Dalam rapat internal, Presiden Jokowi menegaskan pentingnya mekanisme ini diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Peran OJK akan memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam perdagangan karbon sehingga dapat menjadi model yang dapat diandalkan bagi pasar perdagangan karbon global. 2. Penataan Perizinan untuk Wilayah Konsesi Rapat tersebut juga membahas tentang penataan perizinan untuk wilayah konsesi yang berkaitan dengan perdagangan karbon. Penataan ini menjadi landasan bagi pelaku usaha dan perusahaan yang ingin terlibat dalam perdagangan karbon, sehingga berbagai kegiatan dapat dijalankan secara bertanggung jawab dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dengan adanya penataan perizinan yang jelas, diharapkan Indonesia dapat memanfaatkan potensi besar dalam penyimpanan karbon pada sektor migas dan mengembangkan Carbon Capture and Storage (CCS) sebagai langkah progresif untuk mengurangi emisi di sektor industri. 3. Hanya Entitas Indonesia yang Diizinkan, Tidak Boleh Dijual ke Bursa Luar Negeri Presiden Jokowi menekankan bahwa perdagangan karbon hanya akan melibatkan entitas dari Indonesia dan tidak diperbolehkan dijual ke bursa luar negeri. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga dan memastikan bahwa manfaat dari perdagangan karbon berada di dalam negeri dan membantu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui investasi di sektor energi terbarukan dan upaya mengurangi emisi karbon. Peran Pemerintah dalam Penetapan Nilai Ekonomi Karbon Sebagai langkah awal, pemerintah telah menyetujui Peraturan Peresiden mengenai Nilai Ekonomi Karbon dan peraturan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon di bidang pembangkit listrik. Langkah ini adalah bagian dari upaya percepatan penyusunan "rencana harga karbon" di sektor pertanian, industri, dan transportasi dengan standar internasional. Penetapan nilai ekonomi karbon akan menjadi dasar bagi perdagangan karbon yang efektif dan berkelanjutan. Peran Peterson Indonesia dalam Mendukung Sertifikasi Karbon Dalam menghadapi pelaksanaan mekanisme perdagangan karbon yang akan dimulai pada bulan September 2023, Peterson Indonesia berkomitmen untuk memberikan dukungan dan layanan pendampingan dalam proses sertifikasi konsesi lahan penghasil karbon. Karena, sebelum melakukan perdagangan karbon setiap entitas wajib melakukan sertifikasi konsesi lahan penghasil karbon. Kami, Peterson Indonesia menyediakan layanan yang berorientasi pada keberlanjutan dan membantu perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam mematuhi regulasi perdagangan karbon yang berlaku. Kesimpulan Rapat internal yang dipimpin oleh Presiden Jokowi telah menyoroti pentingnya perdagangan karbon sebagai salah satu strategi utama dalam menghadapi perubahan iklim. Pengaturan mekanisme perdagangan karbon yang diawasi oleh OJK, penataan perizinan untuk wilayah konsesi, dan kebijakan hanya melibatkan entitas Indonesia adalah langkah-langkah penting dalam menciptakan perdagangan karbon yang berkelanjutan. Dengan penerapan mekanisme perdagangan karbon ini, diharapkan Indonesia dapat berkontribusi secara signifikan dalam mencapai net zero emisi pada tahun 2060 dan menjadi pionir dalam upaya global untuk melawan krisis iklim.
- Finalisasi Pemutakhiran Metodologi REDD: 2 Poin Pencapaian Verra
Verra, organisasi terkemuka yang bekerja untuk konservasi lingkungan dan mitigasi perubahan iklim, telah mencapai dua tonggak penting dalam mengembangkan metodologi REDD (Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan) terbaru. Rancangan publikasi ini mencakup pedoman dan standar untuk mengukur, melaporkan, dan memverifikasi pengurangan emisi. Pencapaian 1: Draf Metodologi REDD Terbaru Tonggak sejarah pertama meliputi peluncuran draf metodologi REDD yang telah diperbarui, yang mencakup revisi-revisi penting untuk meningkatkan pengukuran dan verifikasi pengurangan emisi. Pembaruan penting adalah sebagai berikut: Pengecualian Lahan Basah dari kebijakan REDD: Lahan basah tidak lagi memenuhi syarat sebagai proyek REDD. Keputusan ini sejalan dengan pencegahan degradasi hutan dan bertujuan untuk fokus hanya pada pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dari deforestasi. Pembaruan Validitas Dasar Proyek yang Dipercepat: Proyek akan diizinkan untuk memperbarui ke periode validitas dasar berikutnya lebih cepat daripada yang disyaratkan oleh standar VCS v.4.4 (Standar Karbon Terverifikasi). Fleksibilitas ini bertujuan untuk mendukung upaya berkelanjutan dalam mengatasi deforestasi dan perubahan iklim. Transisi dari VM0009 ke Metodologi yang Diperbarui: Ketentuan khusus telah diperkenalkan untuk proyek yang beralih dari metodologi VM0009 ke versi yang baru diperbarui. Ini memfasilitasi peralihan yang lancar dan efisien, mendorong proyek yang ada untuk mengadopsi pedoman yang lebih baik. Tujuan utama pembaruan metodologi REDD adalah untuk mengurangi emisi GRK dan mencegah degradasi hutan. Menetapkan standar dan pedoman yang jelas akan membantu pemangku kepentingan dalam merencanakan proyek REDD baru atau mentransisikan proyek yang sudah ada secara efektif. Verra bertujuan untuk menyelesaikan versi terkonsolidasi dari metodologi REDD yang diperbarui pada Q4 pertama tahun 2023. Pencapaian 2: Dimulainya Proses Pendataan Kegiatan Deforestasi Pencapaian kedua berkaitan dengan dimulainya proses pengumpulan data untuk kegiatan deforestasi. Verra telah memutuskan untuk mengadopsi crowdsourcing sebagai sarana utama untuk mengumpulkan data deforestasi dari berbagai daerah. Sebelumnya, data dari sumber lain digunakan untuk memperkirakan deforestasi di masa mendatang. Dengan pembaruan ini, Verra memastikan bahwa kredit konservasi hutan diterbitkan berdasarkan VCS Verra, dengan memasukkan data yang lebih akurat dan terkini. Tujuan khusus dari proses pengumpulan data ini adalah: Menetapkan Pengukuran Baseline Deforestasi: Sebuah baseline akan dikonfirmasi dengan mengumpulkan data tentang kegiatan deforestasi. Ini berfungsi sebagai titik referensi untuk mengukur "kemajuan" atau pengurangan laju deforestasi di masa depan. Memahami Status Deforestasi Saat Ini: Data yang dikumpulkan akan memberikan wawasan tentang keadaan deforestasi saat ini di area tertentu, memungkinkan pengambilan keputusan yang terinformasi dan upaya konservasi yang ditargetkan. Menetapkan Titik Referensi untuk Pengukuran di Masa Mendatang: Data yang dikumpulkan akan berfungsi sebagai titik referensi untuk mengukur kemajuan dalam mengurangi deforestasi di masa depan. Pada akhirnya, tujuan utamanya adalah untuk melindungi hutan dari deforestasi, yang sangat penting dalam mitigasi pemanasan global dan perubahan iklim. Sebagai bagian dari rencana mereka, Verra bertujuan untuk melibatkan lebih dari 40 wilayah untuk berpartisipasi di bawah VCS guna memperkuat upaya global menuju REDD dan pengelolaan hutan lestari. Kesimpulannya, dua tonggak penting yang dicapai oleh Verra menandai kemajuan yang signifikan dalam kemajuan teknologi REDD. Metodologi yang diperbarui dan adopsi pengumpulan data deforestasi crowdsourced menjanjikan strategi yang lebih efektif dan akurat untuk melestarikan hutan, memitigasi perubahan iklim, dan melindungi planet ini untuk generasi mendatang. Dengan kemajuan ini, stakeholders dan pembuat kebijakan dapat membuat keputusan yang lebih tepat untuk memerangi deforestasi dan mengurangi emisi gas rumah kaca secara efektif.
- Angka Kemiskinan di Indonesia Tidak Pernah Berubah?
Angka Kemiskinan Indonesia — Penduduk miskin adalah mereka yang pengeluaran konsumsinya di bawah garis daya beli. Garis daya beli diukur berdasarkan harga yang dibutuhkan untuk membeli kebutuhan pokok pangan setara dengan 2100 kilokalori per orang per hari, tidak termasuk kebutuhan pokok bukan makanan. Oleh karena itu, Bank Dunia memiliki standar khusus untuk mengukur tingkat kemiskinan global dengan menggunakan alat ukur yang disebut Purchasing Power Parity (PPP). PPP adalah ukuran harga barang tertentu di berbagai negara dan digunakan untuk membandingkan daya beli absolut mata uang negara. PPP ditentukan dengan membandingkan harga pembelian sekumpulan barang dan jasa di setiap negara. Informasi ini kemudian digunakan untuk mengonversi PPP masing-masing negara menjadi unit moneter standar seperti dolar AS. Konversi ini membuat perbandingan PPP terlihat lebih relevan. PPP 2011 mengungkapkan $1,9 sebagai garis kemiskinan ekstrim. Menurut pengukuran ini, kemiskinan ekstrim di Indonesia menurun dari 19% pada tahun 2002 menjadi 1,5% pada tahun 2022. Demikian pula, garis kemiskinan berpenghasilan menengah ke bawah sebesar $3,2 mengurangi tingkat kemiskinan berpenghasilan menengah ke bawah di Indonesia dari 61% pada tahun 2022 menjadi 16%. pada tahun 2022. Namun pada September 2022, garis kemiskinan internasional diperbarui dari $1,90 menjadi $2,15 per orang setiap hari. Pembaruan ini diperlukan untuk memperhitungkan perubahan harga di seluruh dunia. Peningkatan garis kemiskinan mencerminkan biaya makanan, pakaian, dan tempat berlindung yang lebih tinggi di negara-negara berpenghasilan rendah antara tahun 2011 dan 2017 dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Pada dasarnya, daya beli sebesar $2,15 pada tahun 2017 setara dengan apa yang dapat dibeli oleh $1,90 pada tahun 2011. Dengan standar baru ini, 33 juta orang kelas menengah ke bawah di Asia telah diklasifikasikan menjadi miskin. Indonesia dan China mengalami penurunan tertinggi di kelas menengah ke bawah. Namun, menurut Bank Dunia, nilai sebenarnya dari garis kemiskinan internasional hampir tidak berubah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) 2017, 40% penduduk Indonesia dapat digolongkan miskin. Perubahan ini juga mengakibatkan 33 juta orang Asia yang sebelumnya dikategorikan sebagai kelas menengah ke bawah jatuh ke kelas miskin. Apakah deklarasi penurunan 1,5% tingkat kemiskinan ekstrim di Indonesia pada tahun 2022 (mengacu pada PPP 2011) hanya merupakan pencapaian semu? Sri Mulyani menyarankan agar Indonesia menetapkan garis kemiskinan nasional karena Bank Dunia melalui PPP-nya tidak secara akurat mencerminkan kondisi kehidupan Indonesia dengan pengeluaran harian yang rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) mengukur garis kemiskinan nasional berdasarkan pemenuhan kebutuhan dasar, mengingat kemiskinan sebagai ketidakmampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pokok makanan dan bukan makanan daripada hanya mengandalkan ukuran pengeluaran. Menurut data Pathways Towards Economic Security: Indonesia Poverty Assessment, telah terjadi penurunan yang signifikan pada garis kemiskinan ekstrem dan menengah ke bawah berdasarkan PPP (Purchasing Power Parity). Namun jika dilihat dari NPL (Garis Kemiskinan Nasional), tren statistik terlihat relatif stabil, dengan penurunan yang minimal dan tidak signifikan. Oleh karena itu, standar PPP yang ditetapkan Bank Dunia tampaknya kurang relevan dengan kondisi perekonomian Indonesia. Tingkat kemiskinan di Indonesia tampaknya tidak akan berkurang jika terus dibandingkan dengan standar PPP terbaru (2017). Dengan demikian, penggunaan NPL yang dianjurkan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) akan terasa lebih realistis bagi Indonesia karena diukur berdasarkan kondisi ekonomi yang relevan dengan realitas masyarakat Indonesia.
- Gelombang Panas Mematikan di Meksiko: Lebih dari 112 Nyawa Hilang karena Suhu Ekstrim Sejak Maret
Gelombang Panas Meksiko — Sejak Maret, Meksiko telah mengalami kondisi yang tragis, setidaknya 112 nyawa melayang karena "suhu ekstrim alami", seperti yang dilaporkan oleh sekretariat kesehatan negara. Negara bagian Nuevo León paling terpukul, dengan 64 kematian yang dikonfirmasi. Daerah lain, seperti Tamaulipas, Veracruz, Tabasco, Oaxaca, Quintana Roo, Sonora, dan Campeche, juga melaporkan puluhan korban jiwa. Selama periode yang sama, sekitar 1.559 orang mencari pertolongan medis untuk masalah terkait suhu, menyoroti parahnya situasi. Selama sepuluh hari terakhir, Meksiko telah merasakan suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan beberapa daerah mencapai setinggi 45 derajat Celcius (113 derajat Fahrenheit), memecahkan rekor bulanan dan bahkan. Tamaulipas, khususnya, menderita banyak kematian selama gelombang panas saat ini, mendorong Gubernur Américo Villarreal Anaya untuk membentuk kelompok kerja guna merumuskan rencana tanggapan. Sekretaris Kesehatan Tamaulipas juga memperingatkan penduduk tentang kelanjutan suhu tinggi di seluruh negara bagian, menyarankan mereka untuk menghindari paparan sinar matahari yang berkepanjangan dan mencari perlindungan di tempat yang sejuk dan berventilasi baik. Temperatur yang melonjak di Meksiko dan Amerika Serikat bagian selatan dapat dikaitkan dengan "kubah panas", yang terbentuk ketika punggung bukit bertekanan tinggi memerangkap udara hangat di suatu daerah, yang menyebabkan kondisi tidak nyaman dan berbahaya. Sayangnya, kubah panas seperti itu, yang bertanggung jawab atas suhu yang memecahkan rekor tersebut, diproyeksikan akan terjadi lebih sering dan dengan intensitas yang lebih besar karena krisis iklim yang sedang berlangsung. Di tengah dampak buruk suhu ekstrem dan gelombang panas di Bumi akibat krisis iklim, upaya kolaboratif dari pihak-pihak yang aktif mendukung kelestarian lingkungan seperti Peterson Projects dan Solutions Indonesia menjadi sangat penting dalam memitigasi dan mengatasi masalah mendesak ini. Proyek PPS Indonesia, yang terkenal dengan keahliannya dalam membantu perusahaan dengan penilaian keberlanjutan, menawarkan wawasan dan sumber daya yang berharga untuk mendukung perusahaan memperoleh sertifikasi yang mencegah dampak negatif karbon. Dengan demikian, sertifikasi ini dapat membantu menghindari peristiwa cuaca ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim. PPS siap membantu perusahaan Anda dalam mencapai berbagai sertifikasi karbon, termasuk PAS 2060, ISCC EU, ISCC PLUS, GGL, ISO 14064-1, ISO 14064-2, dan lainnya. Jangan ragu untuk menghubungi kami untuk diskusi lebih lanjut tentang layanan kami.
- Biomass Updates 2023 - Masa Depan Energi Berkelanjutan dan Solusi Pengurangan Batubara
Keisuke Sadamori, Direktur Pasar dan Keamanan Energi di Badan Energi Internasional (IEA), telah menyatakan bahwa dunia mendekati puncak konsumsi bahan bakar fosil, dengan batu bara menjadi yang pertama menurun. Penting untuk dicatat bahwa Asia sendiri menyumbang 70% dari konsumsi batubara global, dan tiga negara penghasil batubara terbesar - China, India, dan Indonesia - mencatat rekor produksi pada tahun 2022. Mengingat batubara merupakan sumber daya tak terbarukan dan pasokannya rantai menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang signifikan, banyak negara berkomitmen untuk mencapai emisi net-zero pada tahun 2050. Namun, penghentian batubara secara bertahap kemungkinan akan menciptakan permintaan untuk bioenergi yang dihasilkan oleh biomassa. Biomassa bersumber dari bahan organik seperti pohon, tanaman, dan limbah pertanian atau perkotaan. Ini dapat digunakan untuk pemanas, pembangkit listrik, dan bahan bakar transportasi. Memproduksi, mengolah, dan memanfaatkan biomassa untuk energi secara berkelanjutan dan efisien sangat penting untuk mengoptimalkan penghematan GRK dan memelihara jasa ekosistem. Untuk mencapai tujuan ini, Feed-in Tariff (FiT) telah menjadi model bahan bakar rendah karbon dengan serangkaian kriteria keberlanjutannya sendiri, termasuk memastikan pertimbangan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), mempertahankan rantai pasokan yang aman, dan ketiga -verifikasi pihak. FiT telah menyetujui beberapa pembaruan biomassa sebagai model keberlanjutan dalam bahan bakar rendah karbon. Pembaruan termasuk persetujuan bahan bakar biomassa "baru" dan skema sertifikasi. Biomass update 2023: Kesimpulannya, dengan menurunnya konsumsi batubara, ada peningkatan kebutuhan akan bioenergi yang dihasilkan dari biomassa yang berkelanjutan dan efisien. Feed-in Tariff (FiT) telah menetapkan kriteria keberlanjutannya sendiri untuk bahan bakar rendah karbon, termasuk verifikasi pihak ketiga dan memastikan kepedulian lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Beberapa pembaruan biomassa, termasuk bahan bakar biomassa "baru" dan skema sertifikasi, telah disetujui oleh FiT sebagai model keberlanjutan dalam bahan bakar rendah karbon. Namun, masih diperlukan evaluasi risiko bahan bakar biomassa terkait persaingan pangan dan perubahan penggunaan lahan. Dengan memanfaatkan biomassa bersertifikasi, negara-negara dapat mencapai tujuan mereka untuk menghapus batubara sambil mempertahankan sumber energi yang berkelanjutan dan sadar lingkungan. Mencari mitra terpercaya untuk mencapai sertifikasi bisnis Anda di bidang biomassa? Di mana lagi selain di Peterson! Dengan keahlian dan pengalaman kami, kami dapat membantu Anda mendapatkan sertifikasi yang diperlukan yang disetujui oleh FiT, seperti RSPO, MSPO, FSC, PEFC, SBP, RSB, GGL, dan ISCC. Tim profesional kami siap membantu Anda melalui proses sertifikasi yang rumit dan memastikan bahwa bisnis Anda memenuhi semua kriteria keberlanjutan yang diperlukan. Hubungi kami hari ini di marketing-indonesia@onepeterson.com untuk memulai perjalanan Anda menuju masa depan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dengan biomassa bersertifikat.
- Peraturan Final Bahan Bakar Terbarukan Tahun 2023, 2024, dan 2025.
EPA (Environmental Protection Agency) mengeluarkan peraturan final pada 21 Juni 2023, menguraikan persyaratan volume spesifik dan standar persentase untuk berbagai jenis biofuel, seperti biofuel selulosa, diesel berbasis biomassa (BBD), biofuel lanjutan, dan total bahan bakar terbarukan, untuk tahun 2023 hingga 2025. Selain itu, peraturan ini menjawab permintaan pengadilan untuk mengubah aturan tahunan 2016 dengan menetapkan persyaratan volume tambahan sebesar 250 juta galon bahan bakar terbarukan untuk tahun 2023. Tujuan akhir volume bahan bakar adalah sebagai berikut: Peraturan definitif ini menetapkan peningkatan yang konsisten dalam pemanfaatan bahan bakar nabati dalam inventaris bahan bakar Amerika Serikat untuk tahun 2023, 2024, dan 2025. Sebagaimana diuraikan dalam Undang-Undang Kemandirian dan Keamanan Energi (EISA) tahun 2007, tidak ada persyaratan volume khusus ditentukan setelah tahun 2022. Oleh karena itu, dalam aturan ini, EPA menetapkan target definitif volume biofuel di semua kategori berdasarkan kewenangannya. Saat menentukan volume biofuel untuk tahun-tahun setelah 2022, EPA harus mempertimbangkan berbagai faktor yang diatur dalam undang-undang tersebut, termasuk biaya, kualitas udara, perubahan iklim, kemajuan implementasi program, ketahanan energi, pertimbangan infrastruktur, harga komoditas, kualitas air, dan pasokan.
- Biodiesel Indonesia: Energi Terbarukan, Kelapa Sawit Berkelanjutan, dan Pertumbuhan Ekonomi
Biodiesel di Indonesia berasal dari minyak sawit. Minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati pionir yang digunakan di Indonesia dibandingkan dengan bahan bakar nabati lainnya seperti jarak pagar, minyak limbah, minyak jarak, atau minyak kemiri. Karena sifatnya yang terbarukan, bahan bakar nabati seperti minyak sawit harus dilestarikan untuk memastikan keberlanjutannya. Transformasi bahan bakar fosil ke biodiesel di Indonesia membutuhkan adaptasi. Proses ini didukung oleh program pemerintah yang dikenal dengan kebijakan mandatori biodiesel. Ditetapkan bahwa penggunaan bahan bakar nabati campuran dengan solar (solar) akan ditingkatkan secara bertahap. Ketika campuran solar mengandung 35% biofuel, itu disebut B35 (biodiesel dengan kandungan 35% bahan bakar nabati). Program B35 telah diwajibkan di Indonesia sejak Februari 2023 dan akan dilaksanakan secara penuh pada Agustus 2023. Program berikutnya, B40, saat ini sedang diuji coba dan diharapkan hasilnya pada Januari 2024. Menurut infosawit.com, mengganti bahan bakar fosil dengan biodiesel merupakan upaya strategis untuk mendorong penggunaan energi terbarukan di Indonesia. Hal itu bertujuan untuk mengurangi pengeluaran devisa akibat penurunan impor solar, meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO), menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Program B35 diproyeksikan dapat menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 1.653.974 orang dan mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 34,9 juta ton CO2e. Aspirasi tersebut dapat diproyeksikan melalui data penggunaan biodiesel di Indonesia pada tahun 2023. Hingga 25 Juni, Indonesia telah mengonsumsi 5,2 juta kiloliter biodiesel dari alokasi 13,15 juta kiloliter untuk tahun ini. Untuk mempertahankan capaian strategis tersebut, produksi minyak sawit harus ditingkatkan. Peningkatan produksi minyak sawit di Indonesia diperlukan untuk mencegah potensi kelangkaan pasokan akibat kondisi cuaca buruk yang terkait dengan tanda-tanda awal fenomena El Niño. Kegagalan untuk meningkatkan produksi minyak sawit akan mengakibatkan penurunan pasokan global, yang menyebabkan kenaikan harga tahun ini. Informasi tambahan: Harga minyak sawit di Indonesia berkisar antara $747,23/t dari tanggal 1-15 Juli, naik dari harga sebelumnya $723,45/t. Malaysia juga mengalami kenaikan harga minyak sawit mencapai $804,45/t. Untuk menjaga stabilitas harga, Malaysia mengurangi ekspor minyak sawit sebesar 4,5% dari 1-25 Juni, sementara Intertek Testing Services melaporkan penurunan sebesar 8,7% dibandingkan periode yang sama di bulan Mei. https://www.infosawit.com/2023/04/20/persentase-campuran-biodiesel-35-b35-bakal-berlanjut-ke-b40/ https://palmoilina.asia/sawit-hub/sejarah-biodiesel-kelapa-sawit/ https://graintrade.com.ua/en/novosti/kotiruvannya-na-palmovu-oliyu-pidtrimuyut-plani-indonezii-zbilshiti-ii-vmist-u-biodizeli-d.html











